Penciptaan Obi Belt Batik Tulis Berbasis Motif Sumatera Utara

Authors

  • Syahrum Mahkfirah Universitas Negeri Medan
  • Misgiya Misgiya Universitas Negeri Medan

Keywords:

Obi Belt, Penciptaan, Batik Tulis

Abstract

Kriya batik, yang mencakup seni batik, yang diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009. Batik adalah seni menggambar di atas kain. Batik tulis adalah batik yang dihasilkan dengan menggunakan canting tulis yang digunakan sebagai alat bantu dalam meletakan cairan malam pada kain. Obi belt merupakan produk tekstil dari negara Jepang yang digunakan sebagai ikat pinggang untuk menjaga kimono agar tetap rapi dan rapat.Untuk membuat karya ini, penulis menggunakan metode penciptaan dari Sp. Gustami yang tidiri dari 3 tahap yaitu: Tahap Eksplorasi, Perancangan, dan Perwujudan. Hasil dari penciptaan karya batik tulis ini menghasilkan 13 karya batik berbentuk karya tiga dimensi dengan berbagai ukuran. Adapun jenis yang dihasilkan dari karya ini adalah: obi belt. Karya batik memiliki nilai estetik (keindahan) yaitu adanya kombinasi pada ornamen Sumatera Utara. ornamen Sumatera Utara dijadikan sebagai motif utama pada karya batik ini dan Motif lainnya berupa isen-isen. Proses penciptaan karya batik tulis yang dimulai dari proses langkah awal membuat motif pada kertas, memindahkan pola dari kertas ke kain, proses pencantingan, mewarnai batik, penguncian warna, dan ngelorod batik setelah itu dijahit membentuk obi belt. Proses penciptaan karya batik tulis yang dimulai dari proses langkah awal membuat motif pada kertas, memindahkan pola dari kertas ke kain, proses pencantingan, mewarnai batik, penguncian warna, dan ngelorod batik.

References

Arif, M. J. P. (2011). Batik Dermayon suatu keindahan dalam sebuah keterbatasan. Journal of Interior Design Art and Culture, 2(1).

Atmojo, W. T., et al. (2020). Batik eksplorasi kearifan lokal: Ornamen Sumatera Utara. Medan: CV Kencana Emas Sejahtera.

Atmojo, W. T. (2011). Cenderamata berbasis seni etnik Batak. Jurnal Panggung, 1(3).

Benny Gratha. (2012). Panduan belajar membatik. Jakarta: Media Pustaka.

Dedi S., & Deden. (2018). Sejarah batik Indonesia. Bandung: PT Sarana Pancakarya Nusa.

Djatiprambudi, D. (2017). Penciptaan seni sebagai penelitian. Dalam Seminar Nasional Seni dan Desain: Membangun tradisi inovasi melalui riset berbasis praktik seni dan desain. Surabaya: FBS UNESA.

Doellah, H. S. (2002). Batik: Pengaruh zaman dan lingkungan. Surakarta: Danar Hadi.

Fikri, M. A. (2015). Batuan mineral sebagai alternatif bahan pewarna alami. Jurnal Budaya dan Seni, 6(7).

Gustami, S. P. (2007). Butir-butir mutiara estetika Timur: Ide dasar penciptaan seni kriya Indonesia. Yogyakarta: Prasista.

Gustami, S. P. (2008). Nukilan seni ornamen Indonesia. Yogyakarta: Jurusan Kriya FSR ISI Yogyakarta.

Kah, M. T. H. (1982). Ensiklopedia Indonesia. Bandung: S. Gravenhage.

Lisbijanto, H. (2013). Batik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Nadia, S., Wening, S., & Pamadhi, H. (2023). Analisis semiotika motif Kerawang Gayo dan penerapannya pada desain busana obi belt. Jurnal Busana & Budaya, 3(2), 371–381.

Prawira, N. G. (2018). Budaya batik Dermayon. Jakarta: PT Sarana Tutorial Nurani Sejahtera.

Raffles, T. S. (2008). The history of Java (E. Prasetyaningrum, et al., Trans.). Jakarta: Penerbit Narasi.

Saragi, D. (2017). Jenis motif dan nilai filosofis ornamen tradisional Sumatera Utara. Yogyakarta: Thafa Media.

Sari, R. (2013). Keterampilan membatik untuk anak. Yogyakarta: Arcita.

Sugito. (2020). Metode penelitian pendidikan seni rupa. Medan: Unimed Press.

Syachrani, et al. (2023). Identifikasi produk tekstil obi belt. Jurnal Busana dan Budaya, 5(1).

Wulandari, A. (2011). Batik Nusantara: Makna filosofis, cara pembuatan, dan industri batik. Yogyakarta: Andi Offset.

Downloads

Published

2026-04-15