Lirik Lagu Kutidhieng Analisis Makna Komunikasi Pesan Kearifan Lokal Aceh
Keywords:
Kutidhieng, Komunikasi, Kearifan LokalAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang makna lirik lagu tradisional Aceh Kutidhieng sebagai media penyampaian kearifan lokal di tengah pergeseran fungsi musik tradisional saat ini. Dalam menyampaikan makna tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menerapkan teori semiotika struktural Ferdinand de Saussure, yang berfokus pada komponen penanda (signifier) dan petanda (signified), serta mengumpulkan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Aceh kuno, gaya vokal yang lembut, serta simbol harimau putih yang merepresentasikan kesucian para Aulia merupakan tanda-tanda yang sarat makna. Lirik lagu ini terbukti mencerminkan model komunikasi transendental dan kearifan lokal Aceh, yang mencakup etika menjaga keseimbangan alam, inspirasi semangat juang (jihad), penghormatan kepada Aulia, hingga transformasi ritual kuno menjadi praktik keagamaan berbasis tauhid. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa lagu Kutidhieng bukan sekadar karya seni hiburan, melainkan media komunikasi budaya yang efektif untuk mewariskan nilai moral, kearifan lokal, dan etika ekologis masyarakat Aceh
References
Berchmans, H. J. & Hirata, S. (2007). Biodiesel Production from Crude Jatropha curcas L. Seed Oil with a High Content of Free Fatty Acids. Bioresource Technology, 99, 1716-1721.
Cangara. (2022). Pengantar Ilmu Komunikasi (21st ed.). Depok: PT Raja Grafindo Persada.
Efendi, E., Kamala, M. Y., & Arianti, M. (2023). Komunikasi Sebagai Proses Simbolik : Studi Literatur. Jurnal on Education, 05(02), 3413–3417.
Kaksim. (2023). Syair Smong dalam Nyanyian Warisan Penyelamatan Diri dari Bencana Tsunami Aceh Simeulue. Jurnal Seni Nasional Cikini, 2, 17–38. https://doi.org/10.52969/jsnc.v9i1.217
Mora, H. (2026). Bahasa Tanpa Kata: Seni Sebagai Medium Komunikasi Sosial dan Budaya Dalam Perspektif Semiotika. Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, 12, 87–93.
Muclis. (2025). A Study Of Aceh Local Wisdom Communication In The Art Of Meurukon Collaboration Between Art And Da’wah. Jurnal Mahasiswa Antropologi Dan Sosiologi Indonesia (JuMASI), 3, 109–126. https://doi.org/10.29103/jumasi.v3i2.20194
Nasihuddin. (2017). Kearifan lokal dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (studi di desa janggolan, banyumas) *. Jurnal Bina Hukum Lingkungan, September, 18–20. https://doi.org/10.24970/jbhl.v2n1.9
Nucifera, P. (2018). ANALISIS SEMANTIK KOGNITIF. Jurnal Samudra Bahasa, 1(2), 35–41. https://doi.org/http://ejurnalunsam.id/index.php/JSB
Okamura, M., Takagaki, A., Toda, M., Kondo, J. N., Domen, K., Tatsumi, T., Hara, M., & Hayashi, S. (2006). Acid-Catalyzed Reaction on Flexible Polycyclic Aromatik Carbon in Amorphous Carbon. Chem. Mater, 18, 3030-3045.
Ragam Info. (2023). Pengertian Vers dalam Lagu dan Struktur Lainnya. Kumparan.com.
Restiviani. (2023). Dinamika Komunikasi Antar Budaya Dalam Masyarakat. Journal of Communication Studies, 1, 109–125. https://doi.org/https://doi.org/10.71036/ejcs.v1i2.161
Yusuf, Yusri, D. (2001). Struktur dan Fungsi Mantra Bahasa Aceh. Jakarta Barat: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Cut Zuhira, Kamaruddin Hasan, Muchlis Muchlis, Cut Andyna, Fitria Akmal

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










