Pemaknaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi pada Konten Synthetic Media Brain Rot di TikTok

Authors

  • Nazela Sofia Universitas Malikussaleh
  • Ade Muana Husniati Universitas Malikussaleh
  • Jafaruddin Jafaruddin Universitas Malikussaleh

Keywords:

analisis resepsi, brain rot, synthetic media

Abstract

Konten synthetic media brain rot berbasis kecerdasan buatan berkembang pesat di TikTok melalui algoritma For You Page, sementara mahasiswa Ilmu Komunikasi yang secara akademik dibekali literasi media tetap menjadi bagian dari audiensnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis posisi pemaknaan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2022 Universitas Malikussaleh terhadap konten tersebut serta faktor yang melatarbelakanginya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori resepsi dan model encoding-decoding Stuart Hall. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam berbasis stimulus video, observasi non-partisipan, dan dokumentasi terhadap enam informan yang dipilih secara purposif dengan strategi maximum variation sampling, lalu dianalisis dengan model interaktif Miles dkk. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada informan pada posisi dominan-hegemonik; tiga informan (R, M, MJ) berada pada posisi negosiasi dan tiga informan (A, F, C) pada posisi oposisi. Intensitas penggunaan TikTok tidak berkaitan dengan posisi pemaknaan. Faktor pembedanya adalah kedalaman framework of knowledge tentang AI dan synthetic media serta selera humor, sedangkan seluruh informan menilai konten berdasarkan ada tidaknya pesan atau manfaat. Penelitian ini juga mengusulkan algoritma FYP sebagai lapisan encoding tambahan (second-order encoding) dalam kajian resepsi pada media sosial berbasis algoritma.

References

Arianto, B., & Handayani, B. (2024). Populasi dan sampel penelitian kualitatif dalam konteks sosial humaniora. Borneo Novelty Publishing.

Aribowo, P., & Bagaskara, M. I. (2025). Dampak penggunaan media sosial “Brain rot” pada kesehatan mental remaja. Jurnal Sosial Teknologi, 5(3), 350–357. https://doi.org/10.59188/jurnalsostech.v5i3.32020

Aulia, R. D., & Prabayanti, H. R. (2024). Analisis resepsi konsumen pada live streaming TikTok shop di akun penjualan hewan dan tanaman. Commercium, 8(2), 163–172.

Biocca, F. A. (1988). Opposing conceptions of the audience: The active and passive hemispheres of mass communication theory. Communication Yearbook, 11(1), 51–80. https://doi.org/10.1080/23808985.1988.11678679

Chesney, B., & Citron, D. (2019). Deep fakes: A looming challenge for privacy, democracy, and national security. California Law Review, 107(6), 1753–1819.

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.

Feher, K. (2025). AI-driven media & synthetic knowledge: Rethinking society in generative futures. arXiv. https://arxiv.org/abs/2507.19877

Gilbert, C., Sima, R., Shapiro, L., Steckelberg, A., & Ence Morse, C. (2025, Oktober 7). How TikTok keeps its users scrolling for hours a day. The Washington Post. https://www.washingtonpost.com/wellness/interactive/2025/tiktok-addiction-algorithm-scrolling-mental-health/

GoodStats. (2026, April 30). Anak muda Indonesia habiskan 4–6 jam per hari di media sosial.

Guest, G., Bunce, A., & Johnson, L. (2006). How many interviews are enough? An experiment with data saturation and variability. Field Methods, 18(1), 59–82. https://doi.org/10.1177/1525822X05279903

Hall, S. (1980). Encoding/decoding. In S. Hall, D. Hobson, A. Lowe, & P. Willis (Eds.), Culture, media, language: Working papers in cultural studies, 1972–79 (pp. 128–138). Hutchinson.

Indorelawan. (2025, Juni 9). Brainrot dan konten anomali dalam dunia digital anak muda.

Kamaruddin Hasan, Asmaul Husna, Muchlis, Dwi Fitri, & Zulfadli. (2023). Transformasi komunikasi massa era digital antara peluang dan tantangan. JPP Jurnal Politik dan Pemerintahan, 8(1), 41–55.

Kemp, S. (2025, November 5). Digital 2026: Indonesia. DataReportal – Global Digital Insights. https://datareportal.com/reports/digital-2026-indonesia

McQuail, D. (2010). McQuail’s mass communication theory (6th ed.). SAGE Publications.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

Montag, C., Yang, H., & Elhai, J. D. (2021). On the psychology of TikTok use: A first glimpse from empirical findings. Frontiers in Public Health, 9, Article 641673. https://doi.org/10.3389/fpubh.2021.641673

National Geographic Indonesia. (2025). Anomali Brain rot: Pedang bermata dua dari konten receh bagi otak. Grid.id.

Oxford University Press. (2024, Desember 2). ‘Brain rot’ named Oxford Word of the Year 2024. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/

Putri, P. A. H., & Dwihadiah, D. L. (2024). Penerimaan audiens pada penggunaan teknologi kecerdasan buatan sebagai pembaca berita di TV One Indonesia. Jurnal Semiotika, 18(1), 101–118.

Sirait, S. M., & Nasution, M. (2024). Efektivitas platform TikTok sebagai media pemasaran digital. Jurnal Dirosat, 9(1). https://ejournal.unia.ac.id/index.php/dirosat/article/download/1732/1029

Sugiyono. (2023). Metode penelitian kualitatif (3rd ed.). Alfabeta.

UNESCO. (2023). Synthetic content and its implications for AI policy: A primer. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000392181

Waliaula, M. L., Ugangu, W., & Mutunga, I. (2025). The technological affordances of TikTok shaping usability and engagement among young adults: The case of University of Nairobi students. International Journal of Research and Innovation in Social Science, 9(9). https://doi.org/10.47772/IJRISS.2025.90900070

Westerlund, M. (2019). The emergence of deepfake technology: A review. Technology Innovation Management Review, 9(11), 39–52.

Downloads

Published

2026-10-30

How to Cite

Pemaknaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi pada Konten Synthetic Media Brain Rot di TikTok. (2026). Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara, 3(5), 11929. https://jicnusantara.com/index.php/jicn/article/view/8413